Selasa, 28 Februari 2012

Jejak Mestizo/Topas (Portugis Hitam) di Pesisir Timor dan Flores

13304131951340302546

Ilustrasi

Mestizo merupakan kosa kata Portugis yang merujuk pada keturunan dari hasil perkawinan antara bangsa Portugis dengan penduduk pribumi atau yang saat ini sering disebut Indo. Contoh mestizo Indonesia yang banyak diketahui adalah masyarakat kampung Tugu di Jakarta –sering juga disebut kaum Mardijkers karena dibebaskan oleh Belanda yang keturunanya sering tampil di berbagai acara dengan group musik keroncong Tugu.

Kaum Mestizo juga banyak tersebar di pesisir utara pulau timor (Oekusi) atau wilayah Timor Leste lainnya karena wilayah ini masih dijajah oleh Portugis hingga tahun 1975. Jejak Mestizo di pulau Flores pun masih dapat ditelusuri secara pustaka atau berdasarkan sisa-sisa peninggalan budaya Portugis. Para Mestizo di Timor maupun Flores Timur sering juga disebut sebagai Topas –berasal dari bahasa Dravida; Tupassie yang berarti penerjemah– karena perannya sebagai penerjemah dalam hubungan dagang antara Portugis dan penduduk setempat. Oleh karena merupakan hasil perkawinan campur antara bangsa portugis dan penduduk pribumi yang berasal dari ras weddoid maka keturunanya mewarisi ciri kedua ras tersebut yaitu berhidung mancung namun berkulit hitam sehingga mereka disebut juga dengan Portugis Hitam. Mestizo, Topas atau Portugis Hitam menjadi suatu komunitas merdeka pada abad ke 16 hingga 18 yang memiliki pemimpin dan kepentingan politik atau ekonomi yang mandiri.

Jejak Sejarah Mestizo/Topas di Larantuka

Salah satu deskripsi tentang Portugis Hitam dikemukakan oleh seorang Antropolog Jerman bernama Ernst Vatter yang tiba di Larantuka –kota di ujung timur pulau Flores yang masuk dalam Keresidenan Timor dan wilayah sekitarnya (Timor en Onderhorigheden)– pada tahun 1929 bersama istrinya. Tujuan mereka adalah ingin mengeksplorasi kehidupan masyarakat pribumi yang tinggal di kampung-kampung sekitar Gunung (Ile) Mandiri serta beberapa pulau di sekitarnya dan Larantuka menjadi “base camp” mereka.


1330413612737971265

Gereja Katedral Larantuka


1330415930186905225
Runtuhan Benteng Lohayong di Pulau Solor

atter
mendeskripsikan masyarakat Larantuka sebagai penduduk yang heterogen karena banyak dipengaruhi budaya Portugis serta menyebarnya etnis Cina, Ternate, Melayu, Bugis atau Makasar yang mendiami pesisir kota ini. Menurut Vatter, ciri fisik Portugis atau Eropa Selatan masih tampak pada orang-orang Larantuka meskipun percampuran darah dengan Portugis suda lama tidak terjadi (Abad ke 16-18). Ciri-ciri tersebut berupa wajah yang halus dengan hidung tipis yang agak melengkung dan –menurutnya– jika tidak melihat fakta ada yang berbibir tebal, rambut keriting dan berkulit agak gelap maka mereka dapat digolongkan pada ras Lautan Tengah.

Hal yang sama juga ditemukan oleh Vatter dalam sebuah pertemuan politik –di rumah Segeler (Kontrolir Larantuka)– dengan dua orang raja besar (Raja Larantuka dan Raja Adonara) serta empat raja kecil lainnya (Raja Trong, Lamahala, Lamakera dan Lewaiyong). Ia menggambarkan ciri fisik raja Larantuka yang berbeda dengan raja Adonara serta raja lainnya. Fisik Raja Larantuka yang bernama Antonius Balantran de Rozari –sebuah nama Portugis– dideskripsikannya seperti Portugis Hitam yang berbudaya dengan postur tubuh yang langsing semampai, berpakain putih cara Eropa dan memiliki hidung mancung agak melengkung.



Berbeda dengan raja Larantuka, ciri fisik Raja Adonara –yang selalu bersitegang dengan pemerintah kolonial– merepresentasikan ras pribumi dengan berpakaian sarong dan jas serta selimut sutera yang lebar dan berwarna-warni melingkari tubuhnya yang gemuk. Raja yang bernama Arakiang Kamba ini memiliki wajah yang gemuk namun terlihat kekar dan mengenakan songkok merah. Jari-jarinya dihiasi dengan sejumlah cincin yang gemerlapan. Ciri fisik keempat raja kecil lainnya juga sama dengan Raja Adonara ini.


Perkawinan campur antara bangsa Portugis dan penduduk pribumi di Flores Timur sudah tidak terjadi sejak akhir abad ke 17, ketika orang-orang Portugis di bawah pimpinan Coleho Guerriho berpindah dari Larantuka ke Lifau (Oekusi di Timor Barat) namun para mestizo atau topas tetap mendiami wilayah ini dan terus memiliki keturunan hingga sekarang.


Perlu diketahui bahwa Larantuka menjadi pusat pemerintahan Portugis dan penyebaran agama Katolik sejak tahun 1613 –dipimpin oleh Antonio de Ornay– ketika pulau Solor yang sebelumnya dijadikan pusat pemerintahan Portugis diserang oleh Belanda dengan bantuan penduduk pribumi yang beragama Islam. Pertempuran selama 3 bulan akhirnya menghancurkan pertahanan Portugis di benteng yang bernama Lohayong sehingga bangsa Portugis melarikan diri ke Larantuka. Di Larantuka mereka berhasil bertahan dari gempuran Belanda karena dibantu oleh Topas berserta penduduk pribumi lainnya.



Meski sudah dua hingga tiga abad tidak terjadi perkawinan campuran antara bangsa Portugis dan penduduk Larantuka namun Vatter masih menemukan ciri-ciri mestizo pada sebagian masyarakat Larantuka. Budaya-budayanya pun masih terlihat dalam tradisi agama yang berlangsung setiap tahun pada perayaan Hari Paskah yang disebut dengan Semana Santa. Budaya Portugis juga terlihat dari bahasa masyarakat Larantuka yang merupakan perpaduan antara bahasa Melayu dan Portugis. Selain itu, penduduk setempat masih menggunakan nama-nama (marga atau suku) Portugis seperti Da Silwa, Diaz, de Ornay, Fernandez, Da Gomez, de Rozary, Da Santo, Riberu, Aliandu dan nama-nama lainnya.


Kemerdekaan Hidup Mestizo/Topas


13304154031375214018

Benteng Portugis di Lifau/Oekusi



13304155172012498210

Oekusi: Koloni Topas di Pantai Utara Timor


Kehidupan Mestizo atau Topas pada abad ke 16 hingga 19 terbilang cukup merdeka karena mereka membentuk komunitasnya sendiri dan tidak terikat pada hukum manapun. Meski begitu, mereka sering membela kepentingan Portugis ketika berkonflik dengan Belanda sejak di Flores Timur hingga di pesisir Timor. Pada abad ke 17, kaum Topas terkenal sebagai bajak laut yang sering merampok kapal-kapal Belanda di perairan Timor sehingga keberadaan mereka sangat ditakuti oleh VOC. Akan tetapi, terkadang Topas atau Portugis Hitam juga membantu penguasa lokal dengan menyerang kedudukan Portugis untuk tujuan tertentu.

Kedudukan para Portugis Hitam ini –khususnya di pesisir Timor– seperti duri dalam daging bagi Portugis karena sangat dibutuhkan ketika berkonflik dengan Belanda, namun terkadang mengganggu kekuasaan Portugis. Kemerdekaan sikap para Topas terbukti dengan membantu para Liurai atau raja setempat untuk menyerang Portugis di wilayah utara Timor pada tahun 1719. Peperangan yang berlangsung selama dua tahun ini memaksa Portugis meninggalkan pusat pemerintahannya di Lifau dan mundur ke wilayah Dili (Timor Leste). Para Topas akhirnya dipercaya mengatur wilayah pesisir utara pulau Timor tersebut.



Portugis Hitam menguasai wilayah ini hingga berabad-abad lamanya dan para pemimpinnya yang terkenal pada abad ke 19 antara lain Gaspar da Costa, Pasquel da Costa, Siko Bras, Dominggo da Feria, Simon Louis dan Amara da Costa. Kedudukan mereka di wilayah utara Timor ternyata mengurangi ketegangan dengan Portugis dan mereka selalu menjadi ujung tombak dalam menghadapi Belanda. Portugis Hitam dimanfaatkan Portugis untuk menebar teror bagi Belanda yang semakin gencar ingin menguasai Timor seluruhnya.


Teror Portugis Hitam dibalas Belanda dengan melakukan teror melalui kelompok Franzosen Romulus –seorang prajurit VOC yang desersi– yang sering melakukan tindakan mengayau atau pemenggalan kepala musuhnya. Teror dan peperangan antara Portugis dan Belanda di Timor berlangsung hingga tahun 1859 ketika diadakan sebuah perundingan di Lisabon. Perundingan tersebut menetapkan bahwa garis batas antara Timor Timur dan wilayah Oekusi di utara pulau Timor yang dikuasai oleh Portugis dan wilayah Timor Barat yang dikuasai oleh Belanda. Selain itu semua pulau di sekitar Timor –kecuali pulau Kambing yang terletak di dekat Dili– dikuasai oleh Belanda.



Eksistensi Portugis Hitam dalam geopolitik Portugis di Nusa Tenggara sejak abad ke 16 hingga 19 meninggalkan jejak yang kontraversi, namun warisan tersebut menjadi catatan sejarah yang menarik untuk mengetahui kolonialisme di wilayah ini. Nusa Tenggara atau yang dulunya disebut sebagai Sunda Kecil, sering luput dari perhatian para sejarahwan. Belanda pun tidak pernah serius menata wilayah ini hingga akhir abad ke 19 karena minimnya potensi sumber daya alam serta kehidupan masyarakatnya yang penuh kekacauan. Menelusuri jejak para Mestizo/Topas atau Portugis Hitam di wilayah ini memberikan keasyikan tersendiri karena memperkaya wawasan tentang sejarah Indonesia. Salam

1. Erns Vatter, Ata Kiwan, Penerbit Nusa Indah, Ende, 19842. I Ketut Ardhana, Penataan Nusa Tenggara Pada Masa Kolonial 1915-1950, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2005

3. Rosihan Anwar, Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia, Buku Kompas, Jakarta

Yohanes Apriano Fernandez

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda